INFO
Mengapa Penderita Down Syndrome Lebih Mudah Terkena Penyakit Gusi?
17 July 2026

Gigisehat - Orang dengan Down syndrome diketahui memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami penyakit gusi parah pada usia muda dibandingkan populasi umum. Kini, penelitian terbaru dari New York University (NYU) mengungkap salah satu penyebab biologis, yaitu gangguan pada mekanisme sinyal kalsium yang mengurangi produksi air liur.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports ini menunjukkan rendahnya produksi air liur atau hiposalivasi dapat memicu perubahan pada mikrobioma mulut, sehingga bakteri penyebab penyakit lebih mudah berkembang dan meningkatkan risiko penyakit gusi maupun kerusakan gigi.
Para peneliti memperkirakan 60-90 persen penyandang Down syndrome mengalami penyakit periodontal sebelum usia 35 tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan orang tanpa Down syndrome, termasuk mereka yang memiliki disabilitas intelektual lainnya.
Profesor Patobiologi Molekuler NYU College of Dentistry sekaligus penulis senior penelitian, Rodrigo Lacruz, mengatakan bahwa memahami penyebab rendahnya produksi air liur dapat membuka peluang terapi baru.
"Memahami proses yang menyebabkan rendahnya produksi air liur pada penyandang Down syndrome serta mengembangkan terapi untuk mengembalikan fungsi tersebut dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan mulut maupun kesehatan mereka secara keseluruhan," ujar Lacruz.
Penulis utama penelitian, Ga-Yeon Son, menilai persoalan kesehatan mulut pada penyandang Down syndrome selama ini masih kurang mendapat perhatian.
"Dari berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi penyandang Down syndrome, tingginya risiko penyakit pada rongga mulut masih menjadi aspek yang belum banyak diteliti," kata Son.
Gangguan Air Liur Jadi Pemicu
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Down syndrome terjadi pada sekitar satu dari setiap 1.000-1.100 kelahiran hidup di dunia, dengan sekitar 3.000-5.000 bayi lahir dengan kondisi tersebut setiap tahunnya.
Penelitian ini memperkuat bukti, penyandang Down syndrome memproduksi air liur lebih sedikit dibandingkan orang pada umumnya.
Padahal, air liur berperan penting dalam menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalam mulut. Jika jumlahnya berkurang, bakteri penyebab penyakit dapat berkembang lebih cepat sehingga meningkatkan risiko radang gusi dan gigi berlubang.
Selain itu, kesehatan mulut yang buruk juga diduga berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit lain, termasuk Alzheimer. Penyakit ini cukup sering dialami penyandang Down syndrome saat memasuki usia lanjut.
Son menjelaskan faktor pola makan maupun kebersihan gigi memang dapat memengaruhi kesehatan mulut. Namun, penelitian ini menemukan adanya perubahan biologis lain yang tidak kalah penting.
"Meskipun pola makan dan kebersihan mulut dapat berkontribusi terhadap masalah gigi pada sebagian penyandang Down syndrome, kami menemukan adanya perubahan pada produksi air liur, sinyal kalsium, dan mikrobioma yang juga dapat menyebabkan buruknya kesehatan mulut," jelasnya.
Gangguan Sinyal Kalsium Jadi Penyebab Utama
Untuk memahami mekanisme tersebut, tim peneliti menggunakan model tikus yang memiliki karakteristik Down syndrome.
Seperti manusia dengan kondisi serupa, tikus menghasilkan air liur dalam jumlah jauh lebih sedikit. Air liurnya juga lebih asam dan mengandung kadar penanda sistem imun yang lebih tinggi.
Peneliti menemukan mekanisme store-operated calcium entry, yaitu proses sinyal kalsium yang sangat penting untuk menghasilkan air liur, mengalami gangguan pada kelenjar ludah.
"Gangguan pada sinyal kalsium ini kemungkinan besar menjadi penyebab rendahnya produksi air liur pada Down syndrome. Berkurangnya aliran air liur dapat menimbulkan dampak sistemik, mempercepat penyakit periodontal, dan mengganggu keseimbangan ekosistem mikroba," kata Lacruz.
Selain itu, penelitian menemukan peningkatan peradangan pada jaringan gusi serta penurunan fungsi mitokondria di kelenjar ludah.
Profesor dari UT Southwestern Medical Center sekaligus salah satu penulis penelitian, Beverly Rothermel, mengatakan temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai hubungan fungsi mitokondria dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
"Perubahan fungsi mitokondria memang telah lama ditemukan pada penyandang Down syndrome. Yang menarik, penelitian ini menunjukkan adanya jalur biologis yang menjelaskan bagaimana perubahan fungsi mitokondria dan pengaturan kalsium di kelenjar ludah dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh," kata Rothermel.
Berpotensi Berkaitan dengan Penyakit Autoimun
Penelitian ini juga menemukan autoantibodi berkaitan dengan penyakit Sjögren, yaitu gangguan autoimun yang menyerang kelenjar penghasil air liur dan air mata. Temuan ini mengindikasikan penyandang Down syndrome kemungkinan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit tersebut.
Selain itu, para peneliti menemukan kadar suksinat, produk sampingan metabolism berkaitan dengan peradangan dan penyakit gusi, dalam jumlah lebih tinggi di dalam darah. Bakteri penghasil suksinat juga ditemukan di usus maupun rongga mulut.
Profesor Patobiologi Molekuler sekaligus Direktur Research Innovation and Entrepreneurship NYU College of Dentistry, Deepak Saxena, mengatakan perubahan tersebut tampaknya memengaruhi kondisi biologis penyandang Down syndrome.
"Perubahan kadar suksinat secara sistemik serta perubahan mikrobioma mulut dan usus tampaknya ikut memengaruhi proses biologis pada Down syndrome," kata Saxena.
Ia menambahkan penelitian lanjutan masih diperlukan, tetapi hasil ini telah memberikan petunjuk penting mengenai tantangan kesehatan mulut yang selama ini dihadapi penyandang Down syndrome.
Terapi Baru Berpotensi Dikembangkan
Selain meningkatkan kebersihan gigi melalui kunjungan rutin ke dokter gigi, pola makan sehat, dan kebiasaan menyikat gigi, para peneliti menilai penanganan faktor biologis penyebab hiposalivasi perlu menjadi perhatian.
Dalam penelitian ini, obat Pilocarpine, yang digunakan untuk merangsang produksi air liur, terbukti mampu meningkatkan produksi air liur pada tikus percobaan.
Lacruz berharap pendekatan tersebut dapat menjadi dasar pengembangan terapi baru di masa depan.
"Menangani hiposalivasi untuk meningkatkan produksi air liur berpotensi memperbaiki berbagai gangguan sistemik yang dialami penyandang Down syndrome. Inilah yang akan menjadi fokus penelitian kami berikutnya," pungkas Lacruz.***

 (1).png)



