INFO
Bahaya Merkuri pada Tambalan Gigi, WHO Ajak Beralih ke Material Aman
15 July 2026

Gigisehat - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk mempercepat penghentian penggunaan tambalan gigi amalgam yang mengandung merkuri. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah merkuri.
Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Workshop Penguatan Kolaborasi Penghapusan Tambalan Gigi Amalgam yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pakar kesehatan, akademisi, organisasi internasional, hingga sektor swasta di kawasan Asia Tenggara.
Dorongan tersebut muncul setelah Konferensi Para Pihak (COP) ke-6 Konvensi Minamata tentang Merkuri pada 2025 menetapkan target penghentian penggunaan tambalan gigi amalgam secara bertahap paling lambat pada 2034. Kebijakan ini menjadi tonggak penting dalam upaya global mengurangi paparan merkuri di sektor kesehatan.
WHO memasukkan merkuri sebagai salah satu dari sepuluh bahan kimia yang paling berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kandungan logam berat tersebut dapat mencemari udara, tanah, dan air sejak proses produksi, pemasangan, pelepasan hingga pembuangan tambalan gigi amalgam.
Berdasarkan estimasi Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), saat ini terdapat sekitar 3.000 hingga 5.000 ton metrik merkuri masih tersimpan dalam tambalan gigi di seluruh dunia. Kondisi itu membuat transisi menuju bahan tambalan bebas merkuri menjadi prioritas internasional.
Pejabat Pelaksana WHO Regional Asia Tenggara, Dr. Catharina Boehme, menilai penghentian penggunaan amalgam bukan hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki sistem pelayanan kesehatan gigi.
"Penghapusan bertahap tambalan gigi amalgam memberikan peluang bagi setiap negara untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan sekaligus mempercepat transisi menuju layanan kesehatan gigi yang berfokus pada pencegahan, minim tindakan invasif, dan lebih berkelanjutan. Dengan kerja sama antara sektor kesehatan dan lingkungan, kita dapat memperluas akses terhadap layanan kesehatan gigi yang aman, efektif, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat, sekaligus membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan ramah lingkungan," ujar Boehme dikutip dari laman WHO.
WHO melalui Global Oral Health Action Plan 2023-2030 juga mendorong pelayanan kesehatan gigi yang lebih mengutamakan pencegahan penyakit, tindakan minimal invasif, serta penggunaan bahan restorasi bebas merkuri.
Namun, pencapaiannya masih menghadapi tantangan. Hingga 2024, baru 19 persen negara di kawasan Asia Tenggara WHO yang telah menerapkan kebijakan pengurangan atau penghentian penggunaan amalgam, masih berada di bawah rata-rata global yang mencapai 31 persen.
UNEP menilai kolaborasi lintas sektor menjadi faktor utama untuk mempercepat perubahan tersebut.
"Kemitraan antara sektor kesehatan dan lingkungan sangat penting untuk mencapai tujuan Konvensi Minamata, tidak hanya dengan mempercepat transisi menuju layanan kesehatan gigi bebas merkuri, tetapi juga memperkuat pengelolaan limbah yang mengandung merkuri secara ramah lingkungan. Dengan bekerja sama, negara-negara dapat mengurangi pelepasan merkuri, melindungi ekosistem dan masyarakat, serta membangun sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan dan tangguh," kata Koordinator Regional Bahan Kimia dan Polusi UNEP, Sudhir Sharma.
Thailand menjadi salah satu contoh negara yang berhasil menjalankan transisi tersebut melalui proyek GEF-7 Phasing Down Dental Amalgam Project. Negara itu mencatat penurunan penggunaan tambalan amalgam berkat kebijakan pencegahan penyakit gigi, penggunaan bahan restorasi bebas merkuri, serta pengelolaan limbah yang lebih baik.
Selain itu, Thailand juga mulai mengembangkan penggunaan dental amalgam separator untuk mengurangi pelepasan merkuri ke lingkungan selama proses pelayanan kesehatan gigi.
"Proyek ini membantu mengurangi penggunaan tambalan amalgam sekaligus memperkuat kebijakan kesehatan gigi yang berorientasi pada pencegahan, mendorong penggunaan bahan tambalan bebas merkuri, serta meningkatkan pengelolaan limbah tambalan amalgam di Thailand. Pengalaman ini menunjukkan bahwa transisi tersebut dapat dilakukan dan memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara lain di kawasan," kata Direktur Biro Kesehatan Gigi Kementerian Kesehatan Thailand, Dr. Damrong Thamronglaohaphan.
Melalui kerja sama lintas negara dan lintas sektor, WHO berharap semakin banyak negara dapat mempercepat penghapusan tambalan gigi yang mengandung merkuri. Langkah tersebut tidak hanya melindungi kesehatan pasien, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem pelayanan kesehatan lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.***

 (1).png)



