INFO
Denteksi, Platform AI Skrining Kesehatan Gigi dengan Akurasi 90 Persen
11 May 2026

Gigisehat - Dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Muhammad Fakhurrifqi mengembangkan platform skrining kesehatan gigi berbasis Artificial Intelligence (AI) bernama Denteksi. Inovasi ini memungkinkan pemeriksaan awal kesehatan gigi hanya melalui foto dari kamera ponsel yang diambil dari beberapa sisi mulut pasien.
Teknologi tersebut dirancang untuk membantu proses skrining kesehatan gigi menjadi lebih cepat, praktis, dan mudah diakses masyarakat. Sistem akan menganalisis hasil foto untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil pengembangan, platform ini memiliki tingkat akurasi hingga 90 persen untuk skrining gigi sehat, sementara pada deteksi karies gigi tingkat akurasinya telah mencapai lebih dari 80 persen.
Rifqi menjelaskan, gagasan pengembangan Denteksi bermula pada masa pandemi COVID-19 tahun 2021. Saat itu, pembatasan sosial berskala besar menyulitkan proses konsultasi dan pemeriksaan gigi secara langsung antara dokter dan pasien.
Bersama dua rekan dari Puskesmas Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, drg. Dewi Arifahni, MHPM dan drg. Dhinintya Hyta Narissi, Rifqi mengembangkan layanan teledentistry berbasis aplikasi percakapan digital agar pasien tetap dapat berkonsultasi dengan dokter gigi dari jarak jauh.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, pengembangan kemudian diarahkan pada teknologi computer vision berbasis AI. Sistem tersebut disempurnakan dengan kurasi pengambilan foto menjadi tiga sudut utama, yaitu bagian depan, atas, dan bawah gigi. Selain itu, tim juga menambahkan panduan standar pengambilan gambar untuk meningkatkan kualitas analisis.
Pengembangan terbaru Denteksi menghadirkan fitur Odontogram digital yang mampu menampilkan rekam medis gigi lengkap beserta rekomendasi tindakan medis. Teknologi ini memungkinkan sistem mengenali posisi gigi yang bermasalah sekaligus menyusun laporan pemeriksaan secara otomatis.
“Kalau dulu periksa gigi itu kan harus ketemu dokter gigi, diperiksa satu per satu. Nah kalau di Denteksi, cukup foto bagian depan, atas, sama bawah, langsung kelihatan. Versi sekarang, kita menambahkan beberapa algoritma untuk menghadirkan rekam medis, Odontogram. Posisi nomor (gigi) berapa, sakit apa, udah langsung dibuat hasil laporannya dan tingkat akurasi jauh lebih tinggi,” ujarnya dikutip dari laman UGM.
Meski telah menunjukkan tingkat akurasi tinggi, Rifqi menegaskan teknologi AI masih berfungsi sebagai alat skrining awal dan belum dapat menggantikan diagnosis dokter gigi profesional sepenuhnya.
Menurutnya, validasi tenaga medis tetap diperlukan sebelum dilakukan tindakan lanjutan terhadap pasien.
“Setiap saya ketemu pakar, mereka sudah menerima dan selalu mandukung. Tetapi, skrining kan gunanya untuk mengetahui level awal saja. Kalau ada perlu tindakan lebih lanjut silahkan ketemu dokter gigi. Untuk penegakan diagnosis masih tetap butuh expert,” katanya.
Sejak dirilis pada Agustus 2022, Denteksi telah memperoleh berbagai penghargaan inovasi kesehatan. Saat masih menggunakan nama Senyumin, platform ini bersama Puskesmas Kebayoran Baru Jakarta meraih penghargaan kategori mutu pelayanan kesehatan pada Indonesia Health Innovation Award 2022.
Pada tahun yang sama, Denteksi juga meraih Juara 1 Konvensi Mutu Tingkat Provinsi DKI Jakarta 2022.
Pengakuan terhadap inovasi ini terus berlanjut melalui penghargaan Jakarta Innovation Awards 2023 yang diselenggarakan Bappeda Provinsi DKI Jakarta pada September 2023.
Saat ini, pemanfaatan Denteksi berada di bawah naungan PT Senyum Cerdas Indonesia. Dalam satu kali praktik skrining, platform ini mampu memeriksa sekitar 100 anak dalam waktu kurang dari tiga jam. Kegiatan skrining telah dilakukan di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Nusa Tenggara Barat.
Sebagai pengembang, Rifqi membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas pemanfaatan teknologi AI di bidang kesehatan gigi. Kehadiran Denteksi dinilai berpotensi menjadi asisten AI masa depan yang dapat membantu keterbatasan jumlah dokter gigi di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan gigi masyarakat.***

 (1).png)



