INFO
Gigi Sehat Anak, Gerigi Denish Ubah Kebiasaan Sejak Dini
13 April 2026

Gigisehat - Masalah kesehatan gigi pada anak masih sering dipandang sebelah mata. Padahal, kondisi gigi dan mulut berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh, mulai dari asupan nutrisi hingga rasa percaya diri.
Berangkat dari persoalan tersebut, Puskesmas Karangsambung menghadirkan inovasi bernama Gerigi Denish atau Gerakan Terpadu Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Flouride Varnish.
Program ini dirancang khusus untuk anak usia sekolah dasar dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan.
Gerigi Denish digagas drg. Dyah Rahmawati bersama Pratiwi Suciani dan didukung tenaga kesehatan lainnya seperti Anisa Purwanti.
Inisiatif ini muncul setelah melihat tingginya kasus karies gigi di kalangan siswa di wilayah tersebut.
Data tahun 2023 di Kabupaten Bekasi menunjukkan sekitar 75 persen siswa SD di Karangsambung mengalami masalah gigi dan mulut.
Angka ini menjadi sinyal kuat perlunya intervensi yang tidak hanya bersifat pengobatan, tetapi juga edukasi berkelanjutan.
“Gerigi Denish kami rancang sebagai gerakan sadar kesehatan, bukan hanya pemeriksaan atau pengobatan. Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjaga gigi itu bagian dari menjaga diri sendiri,” ujar drg. Dyah Rahmawati.
Program ini menitikberatkan pada pembentukan kebiasaan sehat sejak dini. Anak-anak tidak hanya diperiksa kondisi giginya, tetapi juga diajak memahami cara merawat gigi dengan benar, mengenali struktur mulut, serta dampak buruk konsumsi makanan manis berlebih.
"Kami ingin kebiasaan itu lahir dari kesadaran, bukan karena disuruh. Saat kesadaran sudah tumbuh, perilaku sehat akan menetap,” tambahnya.
Lebih jauh, Dyah menegaskan kesehatan gigi berkaitan erat dengan kualitas hidup anak. Masalah gigi seperti karies dapat mengganggu proses makan, yang pada akhirnya berdampak pada asupan gizi.
“Gigi sehat artinya anak bisa makan dengan nyaman dan tumbuh optimal. Itu sebabnya kami kaitkan juga program ini dengan upaya pencegahan stunting,” jelas Dyah.
Dalam praktiknya, Gerigi Denish menggabungkan edukasi dan aksi nyata di sekolah. Anak-anak diajak belajar melalui metode yang menyenangkan seperti permainan, lagu, dan video edukasi agar materi lebih mudah dipahami.
Selain itu, mereka juga dilatih untuk rutin menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida sebagai bagian dari kebiasaan harian.
“Setiap senyum anak yang sehat adalah cermin keberhasilan kecil kami. Kalau mereka sudah bisa menyikat gigi dengan benar tanpa disuruh, berarti pendidikan kesehatan ini berhasil menanamkan kebiasaan baik yang akan mereka bawa seumur hidup.” tutur Dyah.
Pratiwi Suciani, SKM, menjelaskan bahwa program ini disusun secara terstruktur dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk sekolah, orang tua, dan kalangan akademisi.
Tahapan program dimulai dari pemetaan pengetahuan siswa dan orang tua melalui Google Form. Hasilnya digunakan untuk menentukan pendekatan edukasi yang tepat di lapangan.
Selanjutnya, dilakukan penyuluhan interaktif menggunakan alat bantu visual dan video animasi yang menjelaskan cara menyikat gigi, risiko karies, serta manfaat fluorida untuk kesehatan enamel.
"Anak-anak sangat antusias karena kami tidak mengajar seperti di kelas. Mereka kami ajak bermain sambil belajar,” kata Pratiwi.
Kegiatan dilanjutkan dengan sikat gigi bersama yang menjadi momen favorit siswa. Selain membangun kebiasaan, kegiatan ini juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi rutinitas bulanan, bukan sekadar program seremonial,” lanjutnya.
Sebagai tahap akhir, anak-anak mendapatkan aplikasi Flouride Varnish, yaitu lapisan pelindung pada gigi untuk mencegah kerusakan. Proses ini dilakukan dengan persetujuan orang tua dan menggunakan bahan yang aman.
Program ini juga mendapat dukungan dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia yang turut berkontribusi dalam pendampingan teknis, pemeriksaan, hingga penyediaan materi edukasi.
Dampak dari program ini mulai terlihat dalam satu tahun pelaksanaan. Angka kasus penyakit gigi dan mulut di wilayah Karangsambung berhasil ditekan dari 75 persen menjadi 48 persen.
Peningkatan kesadaran tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada orang tua yang kini lebih aktif dalam mengawasi kebiasaan menjaga kebersihan gigi di rumah.
“Bagi kami, ini bukan sekadar program kesehatan, tapi gerakan perubahan perilaku. Kalau sejak kecil anak-anak sudah punya kesadaran untuk menjaga gigi dan mulutnya, maka di masa depan mereka akan tumbuh menjadi generasi yang sehat, percaya diri, dan berdaya.” tutupnya.
Melalui Gerigi Denish, Puskesmas Karangsambung menunjukkan bahwa upaya sederhana seperti menjaga kesehatan gigi dapat menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi anak yang sehat dan berkualitas di masa depan.***

 (1).png)



